KEJUJURAN DAN KETERBUKAAN: KUNCI KOMUNIKASI?
By: Widyawati Irada, 01 Juli 2007

Saya punya seorang sahabat laki-laki. Bahkan karena kedekatan kami dan rasa nyaman selama menjalin pertemanan dengannya membuat saya menganggapnya seperti saudara sendiri. Semangatnya dalam menjalankan aktifitas selalu menularkan kegairahan buat orang-orang disekitarnya. Keramahan dan kehangatannya membuatnya disukai, populer dan punya banyak penggemar. Ya, sahabatku ini memang sangat menyenangkan. Setiap kali jalan bareng dia membuat saya merasa jadi awet muda. Ceria terus soalnya.
Suatu hari tiba-tiba dia berubah sikap. Jutek habis dan manyun terus kalau ketemu saya. Usut punya usut, dia marah karena menurutnya saya ini tukang kritik. Ah, apa iya? Emang, sepertinya belakangan ini saya sering kasih masukan terhadap sikapnya.
Ya! Semakin merasa dekat dengan dia, saya menemukan sebuah “kebiasaan kurang baik” yang rasanya sih perlu dipoles. Untuk orang sepopuler dia, kebiasaan kurang baik itu bisa saja bikin kecewa para penggemarnya. Bukan tidak mungkin ini akan berimbas pada kepopulerannya, yang pada akhirnya merugikan dirinya sendiri. Sebagai sahabat, saya nggak mau itu terjadi. Hehe.. perhatian banget ya? Sebenernya sih, jujur saya sayang banget sama dia.
Akhirnya, dilandasi rasa sayang yang begitu besar, saya berniat membuat dia sadar dan sedikit merubah kebiasaan buruknya. Kenapa? Karena setelah saya analisa, sebenarnya kebiasaan itu menjadi akar dari masalah yang sedang dia hadapi (yang selalu dia ceritakan ke saya selama ini), dan membuatnya merasa tidak bahagia.
Jujur, saya sangat ingin membantunya menemukan kebahagian. Dan itu hanya bisa didapat jika dia berubah. Itu menurut saya lho…..
Tapi tanpa disadari, niat baik itu membuat saya jadi sering memberi masukan dan saran. Entah berapa lama saya melakukan itu. Yang pasti saya kaget ketika ternyata hal ini membuatnya salah paham dan marah besar. Ternyata dia tidak suka diberi saran kalau dia tidak meminta. “Itu KRITIKAN” katanya. “Dan jangan memberi kritik sama orang lain kalau tidak diminta, Itu membuat orang merasa tidak nyaman, tauk!”
Duh! Hati saya terluka karena dituduh sirik dengan kepopulerannya. Padahal, saya juga melakukannya dengan sahabat saya yang lain, malahan, karena saling memberi kritik dan saran yang membangun, persahabatan kami menjadi semakin dalam. “Aneh!” pikir saya. Tapi sudahlah, setiap orang boleh menentukan sikapnya masing-masing khan?!.
Sejak itu, saya pun memilih untuk menjaga jarak. Merasa kehilangan? Tentu saja! Tapi biarlah, daripada saya membuatnya merasa tidak nyaman. Saya kan sudah katakan, saya lebih suka melihat dia bahagia. Walaupun saya hanya bisa melihatnya dari kejauhan.
Hmm.. ternyata niat baik, belum tentu berakhir baik ya?
Komunikasi dalam Bisnis: Penting!
Pengalaman yang serupa terulang waktu saya menjalankan bisnis. Sebagai pemilik sebuah usaha laundry, saya ingin memberi service yang baik pada pelanggan. Nah, diantara sekian banyak pelanggan saya, ada seorang ibu -sebut saja ibu Lusi - yang rajin sekali mencucikan sprei. Semua sprei miliknya berbahan sangat lembut dan berbentuk segi empat biasa, tanpa accesories. Hmm, mungkin ibu Lusi tidak suka sprei yang berkaret dan berenda. Uniknya, setiap sprei datang selalu ada ikatan erat dan rapi di keempat ujungnya (bahasa Jawanya: dibundeli). Karyawan saya sempat ngomel-ngomel karena harus membuka satu-satu ikatannya setiap kali mau mencuci, dan harus sangat hati-hati karena bahan spreinya sangat lembut dan agak tipis. Tapi saya bilang: “Kita harus sabar sama pelanggan, berikan service terbaik, biar dia merasa senang. Lagipula kalau dibiarkan terikat gitu kan jadi susah keringnya, dan saat dilipat juga tidak rapi...”
Sebulan kemudian, rupanya ada kebiasaan baru. Tahu apa kebiasaan barunya? Keempat ujung sprei yang biasanya hanya dibundeli tiba-tiba sekarang diikat dengan tali, semacam karet tapi bahannya kaku, bentuknya agak tipis mirip kulit rotan. Saya tidak tahu tali apa itu. Yang pasti, acara melepas ikatan jadi makin sulit karena takut merusak kain. Wah... kami betul-betul bingung kenapa sprei sebagus ini harus diikat-ikat dengan cara seperti itu. Mana tiap 3 hari selalu ada sprei yang dicuci lagi. “Duh, Bu Lusi..”
Saking penasarannya, karena kebetulan supir saya sedang cuti, saya sempatkan sendiri mengantar pakaian ke rumah bu Lusi. Ketemu juga sama Bu Lusi. Awalnya dia menyapa ramah, apalagi setelah tahu kalau saya yang punya Laundry. Bu Lusi mempersilahkan saya masuk, dan sempat ngobrol ngalor-ngidul. Saya pikir, it’s okay-lah untuk menjaga hubungan baik dengan pelanggan.
Sampai akhirnya pelan-pelan topik beralih ke masalah laundry, dan saya sempat menanyakan soal “bundelan sprei” itu tadi. Niat saya sih kasih ‘masukan’, sayang kan kalau sprei sebagus itu rusak karena harus ditarik-tarik setiap kali mau dicuci. Ya iyalah, walaupun ujungnya bakalan ngumpet di bawah kasur, tapi kalau rusak kan tetap saja sayang. Jadi kalau mau “dibundeli” ya biasa aja jangan terlalu kuat.
Eh, nggak disangka muka bu Lusi langsung berubah jadi ketus. “Jeng..., saya juga sebenernya kesel lho sama karyawan jeng. Ngapain sich ikatan sprei saya harus dibongkar, ngiketnya susah tauk! Nggak semua orang bisa ngiket serapih gitu, saya diajarin almarhum eyang saya, biar spreinya tetep rapi! Trus biar nggak bisa dibuka, saya kasih tali yang kuat, eh masih dibuka juga! Ngeyel amat ya karyawan Jeng ini, kalau kain sprei saya rusak gimana? Saya sempat berniat pindah ke laundry lain saja”.
Saya kaget dan berkata dalam hati: “Lho, emang bu Lusi pernah bilang apa ya, kalau “bundelannya” jangan dibuka?” Hmm, kayaknya enggak pernah. Tapi dia berharap kita tahu dengan sendirinya. Ho..ho..ho… ini rupanya akar masalahnya.
Yaah, niat awal saya sih baik ya… ngasih service yang prima ke pelanggan, tapi ternyata bukan itu yang dimaui pelanggan. Nggak kena banget, kan? Untung saat itu saya sedang berhadapan langsung dengan Bu Lusi, jadi saya bisa langsung minta maaf atas kesalahpahaman ini. Nggak perlu lewat sms atau email, kan? Hehe....
Jadi apa solusinya? Saya berjanji untuk tidak membuka “sang bundelan” itu lagi, sekaligus bilang kalau lain kali ada yang tidak berkenan, Bu Lusi bisa langsung kontak saya. Dia pun setuju. “Duh, syukurlah, saya tidak jadi kehilangan satu pelanggan...”
Lagi-lagi saya mendapat pelajaran berharga. Kejujuran dan keterbukaan, adalah kuncinya komunikasi. Jadi sebelum kesalahpahaman terjadi, lebih baik terbuka saja, maunya kita bagaimana. Kan lebih enak biar sama-sama mengerti. Mau dengan sahabat atau pelanggan, kalau masing-masing pihak tidak paham apa yang dimaui pihak lain, ya nggak akan bisa nyambunglah. Apalagi kalau cara menyikapinya salah, tali silaturahmi bisa putus deh. Gawat kan kalau begitu caranya?
S E L E S A I