http://www.familialaundry.com

 

KALAU MAU AWET, JAGA KONSISTENSI !

 

By: Widyawati Irada, 23  Juni 2007

Untuk merayakan hari ulang tahun saya, suami mengajak makan malem romantis di sebuah resto. Kok romantis? Iya… berdua aja sich! Minus anak-anak. Restonya asyik banget, tempatnya eksklusif dan makanannya hmm….lecker. Jarang-jarang makan di sini, habis mahal sich! Kalau keseringan bisa boros! Hehe..

 

Yang punya resto, ternyata mantan manager F&B tempat suami saya bekerja. Dua tahun lalu, mengundurkan diri jadi karyawan dan membuat usaha resto kecil-kecilan. Modal awalnya  dikumpulkan dari uang “terimakasih” dari  perusahaan ketika mengundurkan diri, patungan dengan saudara-saudara, dan pinjaman dari bank. Dulu resto ini memang cukup sederhana, sekarang sich sudah WAW!

Sejak awal, resto yang menyuguhkan berbagai masakan khas nusantara ini memang ramai pengunjung, karena makanannya enak dan pelayanannya menyenangkan. Saya pikir, pasti karena kokinya jago banget dalam mengolah berbagai resep masakan.

Eh, saya kaget setelah tahu bahwa ternyata resto ini sudah beberapa kali ganti koki. Wah, kok bisa ya, sebuah usaha resto yang begitu maju dengan mudahnya mengganti koki. Bukankah kunci enak tidaknya masakan terletak pada kokinya? Begitu pikir saya!

Ternyata bukan begitu menurut pemiliknya. Kunci sukses dari usaha makanan yang dia geluti adalah konsistensi. Ya! Konsistensi.

Sejak awal resto ini berdiri, pak Nurman (sebut saja begitu) sudah membuat sebuah konsep tersendiri untuk mengenalkannya pada masyarakat. Ketika masyarakat menerimanya, akhirnya menjadi trade mark untuk usaha restonya. Dan ini membutuhkan sebuah Konsistensi. “kalau mau usahanya dikenal orang, ya harus konsisten, kalau usaha makanan ya cita rasanya tidak boleh berubah-rubah, kalau usaha jasa ya pelayanannya harus standar, bukannya sekarang begini, dan besok begitu”

Dikenal yang dia maksud bukan hanya dikenal namanya lho, seperti kalau kita punya teman, kalau mau akrab kan tidak hanya cukup mengenal nama, tapi juga kebisaaan dan karakter atau sifat-sifatnya.

“Cita rasa masakan tidak boleh berubah-rubah, walaupun kokinya ganti. Karena koki mudah dilatih, apalagi kalau koki itu sudah punya pengalaman, selama dia mau bekerjasama dengan kita, mudah sekali melatihnya”

 “Kalau ada satu-dua pengunjung memberi masukan terhadap rasa masakan itu sudah biasa, karena selera masing-masing orang kan berbeda, tapi bukan berarti dengan begitu kita boleh mengganti-ganti komposisi bumbu, nanti pelanggan jadi bingung. Hari ini rasanya begini, besok lain lagi, nanti mereka tidak mau kembali lagi”

Memang sebelum restonya dibuka, pak Nurman sudah mempersiapkan semuanya. Mulai dari cita rasa masakan, hingga segmen pasar yang ditembak dan jenis pelayanan yang diberikan. Tentang cita rasa masakan, pengalaman belasan tahun sebagai manager F&B membuat pak Nurman sangat mengenali komposisi masakan hanya dari baunya saja. Jadi untuk masalah rasa…. Jangan diragukan lagi!

 

Saya jadi ingat, tetangga saya dulu pernah buka warung soto ayam di depan rumahnya. Masakannya enak (hm.. enak banget malah! Apalagi kalau digratisin, hehe..). Hari-hari pertama pembelinya hanya beberapa orang, hari-hari berikutnya lumayan bertambah, tapi sayang karena kesibukannya sebagai pengurus partai membuatnya sering mendadak libur jualan, hari liburnya tidak pasti, suka-suka dia aja. Lama-lama setiap kali buka warung pembelinya hanya beberapa orang saja. Gimana dong orang mau datang ke warungnya, lha kalau udah dibela-belain jalan ke situ ternyata sering tutupnya? Cape deeh..!

Dan akhirnya, warung itu pun ditutup dengan sukses.

Hmm… ternyata konsistensi itu penting ya. Kalau kita baru mulai buka usaha, memang pada tahap awal masih sering mencari bentuk yang pas dulu untuk karakter usaha kita. Tapi tidak boleh lama-lama lho, karena begitu menemukan formula yang pas, jadikan itu sebagai standar pelayanan. Dengan begitu Kita akan menemukan pelanggan yang sehati, yang menyukai palayanan yang kita berikan, dan akhirnya akan jadi pelanggan setia. Syaratnya ya itu tadi….KONSISTEN!

 

Waktu saya mendiskusikan dengan suami tentang perlunya juga konsistensi agar sukses dalam mendidik anak-anak, dia malah bilang begini. Iya, aku tahu kamu orangnya konsisten banget, terutama konsisten terlambat kalau datang ke pertemuan. Duh, malunya….! :)

 

Kembali ke Artikel